spasi

belajar menulis cerpen

Kamu Gila, Sal!

Waktu berjalan begitu cepat. Ujian Akhir Nasional baru saja usai. Rasanya baru kemarin Mia diantar ibunya untuk mendaftar ke sekolah itu. Tidak ada kecemasan yang berarti bagi Mia. Ia seratus persen yakin bahwa dirinya akan lulus. Kalaupun ada kecemasan dalam batinnya, itu semua tentang Faisal, teman sekelasnya yang namanya mulai meroket semenjak cerbungnya diterbitkan mading sekolah setiap hari Senin, Rabu, dan Jum’at. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Sindrom Bahagia Melihat Ambulans

“Ayo cepat, busnya sudah tiba!” Tangan Zaky menyambar tas ransel yang tersandar pada bangku kayu yang didudukinya. Ujung sepatunya mematikan rokok di lantai ubin berdebu. Sepuluh menit sudah waktu terbunuh dalam senda-gurau di kios yang bersebrangan dengan sebuah halte bus.

“Sebentar, tunggu ambulansnya lewat dulu!” Juwita bergeming sejenak. Tangan kanannya ia tempelkan di daun telinga, mencoba menangkap arah sumber suara sirene ambulans yang tergopoh di kejauhan. Sumirat wajahnya melengkungkan sebuah senyum.

“Ya Tuhan, kamu ini ngapain sih nunggu ambulans lewat?” dahi Zaky mengerut heran.

“Sejak kapan kamu ingat Tuhan?” Juwita balik bertanya. Spontan. Matanya membelalak. Baca entri selengkapnya »